Ma'had Aly Nurul Qarnain
Selamat datang di Ma'had Aly Nurul Qarnain, Jember

Welcome to Univet University. It was founded in 1966, and Univet University has grown into one of the leading institutions of higher education.

Quick Contact:
Follow Us:

Welcome to Univet University. It was founded in 1966, and Univet University has grown into one of the leading institutions of higher education.

Quick Contact:
Follow Us:

Pertemuan Rutin, Alumni Ma’had Aly Nurul Qarnain Dalami Makna Derajat Manusia

bnr-arrow-1-1.png

Ilmu tidak berhenti pada seberapa banyak pengetahuan yang dimiliki seseorang. Ia juga membawa konsekuensi berupa amal dan tanggung jawab. Gagasan inilah yang menjadi salah satu pokok pembahasan dalam kajian rutin Ihya’ Ulumiddin yang digelar Ikatan Alumni Ma’had Aly Nurul Qarnain (IAMA), Ahad (30/08/2026).

Kajian tersebut berlangsung di kediaman Fian Abrori, S.Ag., S.H., Pujer Baru, Maesan, Bondowoso. Forum dihadiri para alumni Ma’had Aly Nurul Qarnain lintas angkatan, mulai dari angkatan pertama hingga angkatan keenam. Pertemuan yang dimulai pukul 08.00 WIB itu tidak hanya menjadi ruang untuk membaca dan mengkaji kitab, tetapi juga berkembang menjadi forum refleksi mengenai posisi orang berilmu di tengah kehidupan.

Ust. Hamdi, S.Ag., M.Pd., yang menyampaikan materi, menguraikan bahwa ilmu memiliki kedudukan istimewa dalam kehidupan manusia. Melalui ilmu, seseorang dapat memperoleh kemuliaan dan peningkatan derajat. Namun, keutamaan tersebut tidak berdiri sendiri. Ilmu harus melahirkan pengamalan agar memiliki nilai yang lebih jauh daripada sekadar pengetahuan.

“Allah Swt. mengangkat derajat anak Adam dengan satu hal, yaitu dengan ilmu. Banyak sekali disebutkan, baik di dalam Al-Qur’an maupun hadis, tentang keutamaan orang-orang yang berilmu,” ungkapnya.

Dari penjelasan tersebut, pembahasan kemudian diarahkan pada persoalan yang lebih mendasar: apakah setiap orang yang memiliki ilmu secara otomatis memperoleh kedudukan sebagai ulama, khususnya ulama akhirat? Menurut Ust. Hamdi, jawabannya tidak sesederhana itu. Keilmuan perlu dibuktikan melalui amal dan ketundukan kepada nilai-nilai yang diajarkan.

“Yang dikatakan ulama akhirat adalah orang yang berilmu dan mengamalkan ilmunya sehingga diselamatkan di akhirat,” lanjutnya.

Pandangan tersebut kemudian mendapat respons dari peserta kajian. Diskusi berkembang pada pemaknaan derajat yang diperoleh seseorang melalui ilmu. Salah seorang peserta menjelaskan bahwa peningkatan derajat tidak selalu bermakna sama. Dalam konteks kehidupan manusia, derajat dapat terlihat dalam bentuk penghormatan, kewibawaan, maupun keuntungan material. Akan tetapi, pencapaian semacam itu belum tentu menjadi ukuran kemuliaan seseorang di hadapan Allah.

“Derajat itu ternyata memiliki dua makna. Ada derajat di dunia dan ada derajat di akhirat. Derajat di dunia adalah orang yang diangkat derajatnya dan biasanya mendapatkan kewibawaan atau mendapatkan harta berkat ilmunya,” jelas peserta tersebut.

Adapun derajat akhirat, menurutnya, berkaitan dengan sejauh mana ilmu membawa seseorang semakin dekat kepada Allah Swt. Dengan perspektif tersebut, keberhasilan seorang berilmu tidak cukup dinilai dari posisi sosial atau pengaruh yang diperolehnya di tengah masyarakat.

“Yang diangkat derajatnya di akhirat itu maksudnya ilmu yang didapat bukan hanya sebatas dunia, tetapi mendekatkan diri kepada Allah. Bisa saja orang yang berilmu melakukan hal-hal yang tidak baik. Bisa saja itu hanya diangkat derajatnya di dunia, tidak diangkat derajatnya di akhirat,” ungkapnya.

Percakapan antarpeserta kemudian menyentuh persoalan yang lebih aktual mengenai hubungan antara kecerdasan intelektual dan kualitas spiritual. Pengetahuan yang luas, apabila tidak disertai penghayatan dan pengamalan, dapat kehilangan fungsi moralnya. Bahkan, ilmu berpotensi digunakan untuk mencari pembenaran terhadap tindakan yang bertentangan dengan nilai agama.

“Banyak di antara saat ini orang berintelektual namun tidak spiritual, itu sangat disayangkan malah menjadikan ilmu sebagai hilah dari hukum,” ungkap salah seorang peserta.

Dalam diskusi itu juga muncul pengingat bahwa persoalan keulamaan bukan hanya menyangkut pribadi orang yang berilmu. Masyarakat juga memiliki tanggung jawab ketika memberikan pengakuan, sebutan, atau gelar tertentu kepada seseorang. Pengakuan sosial semestinya tidak dilepaskan dari pertimbangan terhadap ilmu, amal, dan keteladanan.

“Baik orang yang berilmu maupun orang yang memberikan gelar kepadanya harus berhati-hati, karena sama-sama akan dilihat amalnya dan dihisab nanti,” ujar peserta lainnya.

Bagi para alumni, kajian tersebut sekaligus menjadi ruang untuk mempertemukan kembali tradisi keilmuan dengan ikatan persaudaraan yang telah terbangun sejak masa pendidikan di Ma’had Aly Nurul Qarnain. Karena itu, keberlangsungan forum tidak hanya diarahkan pada kajian kitab, tetapi juga pada upaya menjaga hubungan antarlulusan.

Ketua IAMA, Ust. Waris Musthafa, S.Ag., dalam penutup kegiatan mengajak seluruh alumni untuk mempertahankan kebersamaan tersebut. Ia berharap pertemuan yang menggabungkan silaturahmi dan pengajian dapat terus berlangsung secara berkala.

“Kita berharap kekompakan ini terus dijaga. Insyaallah tiga bulan lagi kita kembali hadir dalam Haul Majemuk di Pondok Pesantren Nurul Qarnain dan tetap istiqamah melaksanakan reuni sekaligus pengajian setiap tiga bulan,” tuturnya.

Pewarta: Wildan Miftahussurur

Tags:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *