Manusia memang senang diperhatikan. Ketika mendapatkan pujian, ada rasa bahagia yang muncul. Ketika sebuah karya diapresiasi, hati terasa lebih ringan. Ketika kebaikan diketahui banyak orang, muncul kepuasan tersendiri. Perasaan seperti ini merupakan sesuatu yang manusiawi. Namun, persoalannya menjadi berbeda ketika perhatian manusia mulai menjadi alasan seseorang melakukan kebaikan.
Pada zaman media sosial seperti sekarang, kebutuhan untuk mendapatkan pengakuan semakin mudah ditemukan. Seseorang dapat menunjukkan aktivitasnya hanya dengan mengunggah foto, video, tulisan, atau status. Sedekah dapat dipublikasikan, kegiatan sosial dapat didokumentasikan, aktivitas mengaji dapat direkam, bahkan ibadah tertentu dapat menjadi bagian dari konten.
Lalu, apakah semua itu riya’? Jawabannya tidak sesederhana itu. Riya’ merupakan persoalan niat. Dalam bahasa Arab, riya’ berasal dari kata رَاءَى yang bermakna memperlihatkan. Dalam pengertian istilah, riya’ berkaitan dengan memperlihatkan amal atau memperbagus amal agar mendapatkan perhatian dan pujian manusia. Karena itu, sesuatu yang terlihat oleh manusia belum tentu riya’. Persoalan utamanya adalah orientasi hati.
Ada orang yang mempublikasikan kegiatan sosial untuk mengajak orang lain berbuat baik. Ada pula yang membagikan aktivitas pendidikan sebagai bentuk informasi kepada masyarakat. Namun, tidak sedikit pula yang mempublikasikan aktivitasnya semata-mata karena membutuhkan validasi, seperti menulis, “Alhamdulillah, selesai mengaji,” “Alhamdulillah, sudah mengaji beberapa juz,” “Alhamdulillah, hari ini sudah bersedekah,” atau berbagai unggahan lain yang menunjukkan aktivitas kebaikan dirinya. Dokumentasi kegiatan keagamaan memang dapat menjadi bagian dari dakwah, edukasi, maupun laporan pertanggungjawaban. Karena itu, suatu amal tidak dapat langsung disebut riya’ hanya karena diketahui oleh publik. Persoalannya terletak pada niat dan orientasi hati. Maka, ada pertanyaan sederhana yang patut diajukan kepada diri sendiri: apakah kebaikan itu tetap dilakukan ketika tidak ada seorang pun yang melihat?
Pertanyaan ini penting karena riya’ sering kali tidak hadir dalam bentuk yang terang-terangan. Ia bisa muncul melalui kebutuhan terhadap validasi. Seseorang merasa senang ketika dipuji, kecewa ketika tidak mendapatkan apresiasi, bahkan kehilangan semangat ketika tidak ada yang memperhatikan. Amal yang semula dilakukan karena Allah perlahan bergantung pada respons manusia.
Sayyidina Ali bin Abi Thalib, sebagaimana dikutip Imam al-Ghazali, menyebutkan tanda-tanda orang yang riya’:
لِلْمُرَائِي ثَلَاثُ عَلَامَاتٍ : يَكْسَـلُ إِذَا كَانَ وَحْدَهُ، وَيَنْشَـطُ إِذَا كَانَ فِي النَّاسِ، وَيَزِيدُ فِي الْعَمَلِ إِذَا أُثْنِيَ عَلَيْهِ وَيَنْقُصُ إِذَا ذُمَّ
“Orang yang riya’ memiliki beberapa tanda: malas ketika sendirian, rajin ketika berada di tengah banyak orang, amalnya bertambah ketika dipuji dan berkurang ketika dicela.”
Pesan tersebut terasa dekat dengan kehidupan hari ini. Ada orang yang rajin ketika berada di hadapan publik, tetapi kehilangan semangat ketika tidak ada yang melihat. Ada yang bersemangat mengunggah kebaikan, tetapi merasa kecewa ketika jumlah tanda suka tidak sesuai harapan. Ada pula yang sangat senang ketika disebut baik, saleh, dermawan, cerdas, atau berprestasi.
Validasi memang menyenangkan. Namun, validasi tidak boleh menjadi ukuran utama dalam menentukan nilai sebuah amal. Islam mengajarkan ikhlas. Syekh Muhammad Nawawi al-Bantani dalam Nashā’ih al-‘Ibād menjelaskan tingkatan ikhlas dengan ungkapan:
فَأَعْلَى مَرَاتِبِ الْإِخْلَاصِ تَصْفِيَةُ الْعَمَلِ عَنْ مُلَاحَظَةِ الْخَلْقِ
“Tingkatan ikhlas yang paling tinggi adalah membersihkan amal dari perhatian makhluk.”
Maknanya bukan berarti semua amal harus disembunyikan. Yang harus dibersihkan adalah ketergantungan hati terhadap penilaian manusia. Amal boleh diketahui, tetapi pujian bukan tujuan. Kebaikan boleh dipublikasikan, tetapi pengakuan bukan orientasi utama. Seseorang boleh mendapatkan apresiasi, tetapi amal tidak boleh bergantung pada apresiasi tersebut.
Persoalan lain yang sering muncul adalah rasa takut terhadap riya’. Ada orang yang ketika hendak melakukan kebaikan justru berpikir terlalu jauh: “Nanti dianggap pamer.” Akibatnya, amal baik tidak jadi dilakukan. Padahal, munculnya lintasan riya’ tidak selalu berarti seseorang harus meninggalkan amal.
Imam Izzuddin bin Abdus Salam menjelaskan bahwa ketika riya’ muncul di tengah amal yang sejak awal dilakukan dengan niat ikhlas, seseorang perlu menolak dorongan tersebut dan meneruskan amalnya. Niat awal tetap menjadi pijakan selama godaan tersebut tidak diikuti.
Karena itu, perjuangan melawan riya’ bukan dengan berhenti berbuat baik. Justru amal tetap dilakukan sambil terus memperbaiki niat. Hati manusia memang mudah berubah. Hari ini ikhlas, besok bisa saja muncul keinginan dipuji. Saat pujian datang, hati bisa berbunga-bunga. Saat celaan datang, semangat dapat menurun.
Maka, media sosial sebenarnya bukan masalah utama. Kamera juga bukan masalah utama. Foto, video, tulisan, dan publikasi pun bukan masalah utama. Persoalan yang lebih dalam adalah ketika penilaian manusia mulai menguasai hati.
Boleh mencari apresiasi, tetapi jangan sampai hidup hanya mengejar apresiasi. Boleh mendapatkan “like”, tetapi jangan sampai kebaikan hanya dilakukan demi “like”. Boleh tampil di ruang publik, tetapi jangan sampai kesalehan hanya hidup ketika ada penonton.
Riya’ modern mungkin tidak selalu berbentuk pamer secara terang-terangan. Kadang ia hadir sebagai kebutuhan untuk terus dilihat, terus dipuji, terus diakui, dan terus mendapatkan validasi. Sebab itu, sesekali perlu ada ruang untuk berbuat baik tanpa kamera, membantu tanpa unggahan, bersedekah tanpa publikasi, membaca dan menghafal Al-Qur’an tanpa dokumentasi dan status, bekerja tanpa menunggu tepuk tangan cari pujian, dan beribadah tanpa memikirkan siapa yang akan mengetahuinya.
Jika tidak ada seorang pun yang melihat, tetapi amal tetap berjalan, barangkali hati sedang belajar mengenal makna ikhlas.
فَاعْمَلْ لِلّٰهِ وَلَا تَعْمَلْ لِلنَّاسِ
“Beramallah karena Allah, bukan karena manusia.”










