Ma'had Aly Nurul Qarnain
Selamat datang di Ma'had Aly Nurul Qarnain, Jember

Welcome to Univet University. It was founded in 1966, and Univet University has grown into one of the leading institutions of higher education.

Quick Contact:
Follow Us:

Welcome to Univet University. It was founded in 1966, and Univet University has grown into one of the leading institutions of higher education.

Quick Contact:
Follow Us:

Kami Hanya Ingin Pulang dengan Nama Santri yang Diakui Negeri

bnr-arrow-1-1.png

(Suara Hati Kecil Santri di Hari Santri Nasional)

Air mata yang jatuh tanpa suara di antara lembaran kitab yang terbuka. Ada hati yang terluka ketika nama santri, yang dijaga dengan doa, ilmu, dan pengabdian, mendadak dipandang sebelah mata. Kami tidak takut pada kritik, tetapi kami berduka ketika kesalahan segelintir orang seolah cukup untuk menghapus kebaikan ribuan pesantren.

Atap yang bocor tentu harus diperbaiki, bagian yang rapuh harus diperiksa, dan siapapun yang bersalah harus mempertanggung jawabkan perbuatannya. Namun, apakah karena beberapa atap bocor, kita harus membongkar rumah beserta isinya? Apakah menghancurkan bangunan menjadi satu-satunya jalan untuk memperbaiki kerusakan? jangan sampai upaya memperbaiki kerusakan justru meruntuhkan seluruh rumah yang selama ini menjadi tempat tumbuhnya ilmu, adab, dan harapan.

Barangkali, begitulah pesantren hari ini ingin dipahami. Di tengah sorotan terhadap berbagai persoalan yang mencoreng lembaga pendidikan agama, ada jutaan santri yang tetap tekun mengaji, menghafal ilmu, menjaga adab, dan menggantungkan cita-citanya pada doa para kiai. Mereka tidak meminta pesantren dibebaskan dari kritik, apalagi menuntut kesalahan dibiarkan. Mereka hanya berharap, ketika kesalahan diungkap, kebaikan tidak ikut dilupakan ketika oknum diadili, seluruh keluarga besar pesantren tidak turut dihukum oleh prasangka.

Menurut data Kementerian Agama per-Oktober 2025, Indonesia memiliki 42.391 pesantren dengan 6.267.741 santri. Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan gambaran jutaan manusia yang sedang belajar dan menata masa depan. Tentu, besarnya jumlah itu tidak boleh menjadi alasan untuk menutup mata terhadap pelanggaran. Namun, kesalahan sebagian orang juga tidak adil jika dijadikan cermin untuk menghakimi semuanya.

Sejarah pun menyimpan jejak pengabdian pesantren bagi negeri. Pada 22 Oktober 1945, KH Hasyim Asy’ari memimpin lahirnya Resolusi Jihad yang membangkitkan semangat perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Dari pesantren dari tangan para kiai dan santri, semangat membela agama dan tanah air diwariskan. Sebuah pengabdian yang layak dikenang, sebagaimana setiap kesalahan tetap harus ditindak dengan adil.

Kami tidak meminta semua orang menutup mata terhadap kekurangan kami. Kami hanya berharap, jangan tutup mata terhadap kebaikan yang juga tumbuh di dalamnya. Sebab, kami ingin pulang membawa ilmu, mengabdi kepada masyarakat, dan berdiri dengan kepala tegak sebagai bagian dari bangsa ini. Kami hanya ingin pulang dengan nama santri yang diakui negeri bukan karena kami tanpa cela, melainkan karena kami pun berhak dinilai dengan adil.

Al-Qur’an mengingatkan kita dalam Surah An-Najm ayat 38:

أَلَّا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَىٰ

“Bahwa seseorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain.”

Prinsip ini mengajarkan keadilan yang mendasar: setiap orang bertanggung jawab atas perbuatannya sendiri. Lantas, mengapa kesalahan seseorang harus menjadi beban bagi seluruh santri yang bahkan tidak mengenalnya? Coba bayangkan, berapa banyak santri yang bangun sebelum fajar untuk mengaji, menahan rindu kepada orang tua, hidup dalam kesederhanaan, dan berjuang memahami kitab demi bekal pengabdian. Apakah seluruh perjuangan itu pantas tenggelam hanya karena ulah mereka yang menyalahgunakan kepercayaan?

Pada Hari Santri ini, izinkan kami menyampaikan satu hal: jika ada oknum yang mencederai nama pesantren, hukumlah kesalahannya, bukan seluruh keluarga besarnya.

Sebab, pesantren bukan sekadar bangunan tempat kami tinggal. Di sanalah kami belajar menjadi manusia. Dan kami berharap, dunia luar tetap memberi ruang bagi kami untuk membuktikan bahwa santri masih memiliki sesuatu yang layak dipercaya.

Oleh: Yudhi Audrian Dzikri

Tags:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *