Setiap tanggal 22 Oktober, bangsa Indonesia menoleh kembali pada peristiwa heroik tahun 1945 ketika KH. Hasyim Asy’ari memaklumatkan “Resolusi Jihad”. Jika delapan dekade silam para santri turun ke palagan fisik berbekal bambu runcing dan takbir untuk melawan kolonialisme, medan pertempuran di tahun 2026 ini telah bertransformasi secara radikal. Garis depan pertahanan bangsa kini tidak lagi berada di barikade jalanan, melainkan di ranah algoritma, kecerdasan buatan (AI), dan lanskap disrupsi digital.
Di era di mana laju informasi bergerak melampaui kecepatan nalar manusia, penjajahan bentuk baru hadir melalui hegemoni data, polarisasi sosial akibat hoaks, dan degradasi empati. Di sinilah letak relevansi krusial seorang santri. Pesantren, dengan akar keilmuannya yang bertumpu pada akhlak dan sanad (ketersambungan transmisi ilmu), memiliki perangkat moral yang paling mendesak dibutuhkan oleh peradaban modern.
Menjaga Kewarasan Digital Melalui Tabayyun
Teknologi pada dasarnya adalah instrumen netral. Namun, di tengah krisis epistemologis saat kecerdasan buatan mampu mereplikasi realitas melalui deepfake dan membiaskan batas antara kebenaran dan fabrikasi ruang digital bisa menjadi mesin pemecah belah yang masif.
Dalam menghadapi arus deras ini, metodologi tabayyun (verifikasi) silang yang diajarkan di bilik-bilik pesantren bukan lagi sekadar adab, melainkan mekanisme pertahanan sosial. Al-Qur’an secara eksplisit telah meletakkan fondasi literasi digital ini dalam QS. Al-Hujurat ayat 6:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ
“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti (tabayyun), agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.”
Prinsip kehati-hatian ini adalah antitesis dari budaya asal berbagi (share) yang kerap memicu kegaduhan. Santri dilatih untuk menelusuri akar sebuah informasi (sanad), sebuah logika yang sebenarnya sangat paralel dengan cara kita memvalidasi sumber data dalam sistem komputasi modern.
Merakit Logika Pemrograman dan Mengurai Shorof
Santri hari ini dituntut untuk mampu “membaca” realitas zaman, bukan sekadar fasih melafalkan teks klasik (turats). Al-Qur’an dalam QS. Al-Anfal ayat 60 mengamanatkan:
وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ
“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi…”
Dalam konteks kekinian, “kekuatan” tersebut bermakna penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kita membutuhkan lahirnya generasi santri yang mampu merancang platform digital, memahami logika basis data dan algoritma, sama fasihnya dengan mereka mengurai tata bahasa Arab atau ritme bahr dalam syair-syair klasik.
Ketika proses pendidikan semakin terdigitalisasi, jihad di bidang pendidikan agama berarti menciptakan ruang belajar yang adaptif mengintegrasikan sistem digital, rancangan penilaian diagnostik, dan modul pembelajaran interaktif tanpa kehilangan sentuhan pembentukan budi pekerti. Kecerdasan buatan harus diposisikan sebagai alat bantu untuk merumuskan solusi sosial, bukan sebagai pengganti nalar dan nurani.
Beradaptasi Tanpa Kehilangan Akar
Pertanyaannya, mungkinkah pesantren mengawinkan tradisi sarungan dengan kecepatan kecerdasan buatan tanpa kehilangan jati dirinya? Para ulama telah membekali santri dengan kaidah ushul fikih yang sangat progresif:
المُحَافَظَةُ عَلَى القَدِيْمِ الصَّالِحِ وَالأَخْذُ بِالجَدِيْدِ الأَصْلَحِ
“Al-Muhafazhatu ‘ala qadimis shalih, wal akhdzu bil jadidil ashlah”
(Memelihara tradisi lama yang baik, dan mengambil hal baru yang lebih baik).
Kaidah ini adalah cetak biru transformasi. Santri wajib beradaptasi, merangkul inovasi, dan ikut serta merumuskan etika penggunaan teknologi, selama hal tersebut membawa kemaslahatan. Semangat ini sejalan dengan pandangan ulama kharismatik, Almaghfurlah KH. Maimoen Zubair (Mbah Moen), yang pernah berpesan, “Santri bukan sekadar yang memakai sarung, melainkan mereka yang memiliki akhlak dan sanad keilmuan yang bersambung.”
Pada akhirnya, “Jihad Algoritma” adalah pengejawantahan modern dari fatwa:
حُبُّ الْوَطَنِ مِنَ الْإِيْمَانِ
“Hubbul Wathan Minal Iman”
(Mencintai tanah air adalah sebagian dari iman).
Membela negara hari ini berarti menjaga kedaulatan bangsa dari penjajahan digital dan memastikan bahwa setiap lompatan teknologi tetap berpihak pada nilai-nilai kemanusiaan. Santri modern adalah mereka yang menavigasi dunia maya dengan ketajaman intelektual di satu sisi, dan menjejakkan kakinya pada kedalaman spiritual di sisi yang lain. Selama pesantren terus melahirkan generasi dengan kompas moral yang presisi, bangsa ini tidak akan pernah tersesat di tengah badai disrupsi peradaban. Selamat Hari Santri Nasional.
Oleh: Muhammad Ihyaul Fikro










