Hampir setiap hari, TikTok hadir dalam kehidupan Generasi Z. Membuka aplikasi ini awalnya mungkin hanya untuk mencari hiburan, tetapi dalam beberapa menit kita bisa menemukan berbagai macam informasi, termasuk informasi tentang politik. Apalagi ketika pemilu semakin dekat, konten politik seolah ikut memenuhi halaman For You Page (FYP). Ada calon yang menyampaikan gagasan melalui video singkat, mengikuti tren yang sedang viral, membuat konten bersama masyarakat, bahkan ada pula yang menyampaikan kritik terhadap calon lainnya. Politik yang sebelumnya terasa jauh dan formal kini dapat ditemui dengan cara yang lebih santai melalui layar ponsel.
Kondisi ini sebenarnya memberikan peluang bagi anak muda untuk lebih mengenal dunia politik. Generasi Z dapat mengetahui berbagai informasi mengenai calon, program, maupun persoalan yang sedang dibicarakan masyarakat tanpa harus menunggu berita di televisi atau membaca koran. Namun, di balik kemudahan tersebut terdapat persoalan yang perlu diperhatikan. TikTok bekerja dengan video yang singkat dan menarik, sedangkan persoalan politik tidak selalu sederhana. Sesuatu yang seharusnya membutuhkan penjelasan panjang terkadang hanya ditampilkan dalam beberapa detik. Akibatnya, kita bisa saja lebih mudah tertarik kepada calon yang lucu, menarik, sering muncul di FYP, atau pandai membuat konten daripada benar-benar memahami gagasan dan rekam jejaknya.
Di sinilah kita perlu berhenti sejenak dan bertanya: apakah sesuatu yang sering muncul di FYP berarti benar? Apakah video yang memiliki banyak penonton berarti informasi di dalamnya dapat dipercaya? Jawabannya tentu tidak selalu. TikTok adalah media untuk mendapatkan informasi, tetapi bukan berarti setiap informasi yang muncul di dalamnya harus langsung diterima sebagai kebenaran. Sebagai pengguna media sosial, terutama sebagai generasi muda yang akan ikut menentukan arah kehidupan bangsa, kita memiliki tanggung jawab untuk berpikir lebih kritis.
Dalam Islam, sikap berhati-hati terhadap informasi dikenal dengan prinsip tabayyun, yaitu memeriksa kebenaran suatu berita sebelum mempercayai atau menyebarkannya. Allah Swt. berfirman dalam QS. Al-Hujurat ayat 6:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنْ جَاۤءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَاٍ فَتَبَيَّنُوْٓا اَنْ تُصِيْبُوْا قَوْمًا ۢ بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوْا عَلٰى مَا فَعَلْتُمْ نٰدِمِيْنَ
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, jika seorang fasik datang kepadamu membawa suatu berita penting, maka telitilah kebenarannya agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena ketidaktahuan yang berakibat kamu menyesali perbuatanmu.”
Ayat tersebut sangat dekat dengan kehidupan kita di media sosial. Ketika melihat potongan video seorang tokoh politik yang terlihat sedang mengatakan sesuatu yang kontroversial, kita tidak seharusnya langsung menyimpulkan bahwa tokoh tersebut benar-benar bermaksud seperti yang terlihat dalam potongan video. Kita perlu mencari video lengkapnya, melihat konteks pembicaraannya, dan membandingkannya dengan sumber lain. Jangan sampai hanya karena ingin menjadi yang pertama membagikan informasi, kita justru ikut menyebarkan sesuatu yang belum tentu benar.
Sikap tersebut juga sejalan dengan kaidah fikih الْيَقِينُ لَا يَزُولُ بِالشَّك yang berarti “keyakinan tidak dapat dihilangkan dengan keraguan.” Dalam kehidupan digital, kaidah ini dapat menjadi pengingat bahwa informasi yang masih diragukan kebenarannya tidak seharusnya diperlakukan sebagai fakta, terlebih jika informasi tersebut menyangkut nama baik seseorang atau dapat memengaruhi pandangan masyarakat.
Selain memeriksa kebenaran, Gen Z juga perlu belajar bersikap adil. Perbedaan pilihan politik adalah sesuatu yang wajar. Yang menjadi masalah adalah ketika perbedaan tersebut membuat kita hanya melihat kebaikan dari pihak yang kita sukai dan hanya mencari kesalahan dari pihak yang tidak kita sukai. Allah Swt. berfirman dalam QS. An-Nisa’ ayat 58:
وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ
“Apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia, hendaklah kamu menetapkannya dengan adil.”
Prinsip tersebut dapat diterapkan ketika Gen Z menilai konten politik. Seseorang sebaiknya tidak menerima semua informasi tentang tokoh yang disukai tanpa memeriksanya, sementara menolak informasi tentang tokoh yang berbeda pilihan tanpa alasan yang jelas. Penilaian hendaknya didasarkan pada informasi dan fakta yang dapat dipertanggungjawabkan. Kita boleh memiliki pilihan politik, tetapi perbedaan pilihan tidak seharusnya menjadi alasan untuk memusuhi atau merendahkan orang lain.
Hal lain yang tidak kalah penting adalah mempertimbangkan dampak dari setiap tindakan kita di media sosial. Satu komentar atau satu video yang dibagikan mungkin terlihat sederhana bagi pengunggahnya, tetapi dapat menyebar kepada banyak orang. Jika isinya menyesatkan atau mengandung kebencian, dampaknya tentu tidak lagi sederhana. Dalam kaidah fikih terdapat prinsip دَرْءُ الْمَفَاسِدِ أَوْلَى مِنْ جَلْبِ الْمَصَالِحِ, yang berarti “menolak kemudaratan lebih diutamakan daripada mengambil kemaslahatan.”
Kaidah tersebut mengajarkan bahwa sebelum membagikan suatu konten, kita perlu mempertimbangkan dampaknya. Jika sebuah informasi belum jelas kebenarannya tetapi berpotensi menimbulkan fitnah, kebencian, atau konflik, maka menahan diri untuk tidak menyebarkannya merupakan sikap yang lebih bertanggung jawab. Dalam konteks ini juga berlaku kaidah الضَّرَرُ يُزَال, yaitu “kemudaratan harus dihilangkan.” Artinya, penggunaan media sosial sebaiknya tidak menjadi sarana untuk menambah kerugian atau konflik di tengah masyarakat.
Gen Z juga perlu menghindari fanatisme politik yang berlebihan. Perbedaan pilihan merupakan hal yang wajar, tetapi perbedaan tersebut tidak semestinya membuat seseorang membela tokoh tertentu secara membabi buta atau menyerang pihak yang berbeda. Kritik tetap dapat disampaikan, tetapi sebaiknya diarahkan pada gagasan atau program dan didasarkan pada fakta. Dengan demikian, media sosial dapat menjadi ruang untuk berdiskusi dan bertukar pandangan, bukan tempat untuk saling menjatuhkan.
TikTok dapat menjadi pintu awal bagi Gen Z untuk mengenal persoalan politik, tetapi informasi yang diperoleh tidak seharusnya berhenti pada apa yang muncul di FYP. Konten yang menarik perlu diikuti dengan keinginan untuk mencari informasi yang lebih lengkap dan terpercaya. Dalam hal ini, Fikih Siyasah dapat menjadi kompas etika bagi Gen Z di tengah derasnya arus politik digital. Tabayyun mengajarkan kita untuk memeriksa informasi, keadilan mengajarkan kita untuk tidak menilai secara sepihak, sedangkan kaidah tentang kemudaratan mengingatkan kita untuk mempertimbangkan dampak dari setiap tindakan. Dengan sikap tersebut, media sosial tidak hanya menjadi tempat mengikuti tren politik, tetapi juga dapat menjadi ruang bagi generasi muda untuk belajar, berdiskusi, dan berpartisipasi dalam kehidupan masyarakat secara bijak dan bertanggung jawab.
Oleh: Maulidiatul Hasanah










