Ma'had Aly Nurul Qarnain
Selamat datang di Ma'had Aly Nurul Qarnain, Jember

Welcome to Univet University. It was founded in 1966, and Univet University has grown into one of the leading institutions of higher education.

Quick Contact:
Follow Us:

Welcome to Univet University. It was founded in 1966, and Univet University has grown into one of the leading institutions of higher education.

Quick Contact:
Follow Us:

Dari Bali ke Panggung Nasional, Yudhi Audrian Dzikri Bawa Semangat Ma’had Aly Nurul Qarnain

bnr-arrow-1-1.png

Semangat seorang santri untuk terus belajar kembali menemukan panggungnya. Yudhi Audrian Dzikri alumnus Ma’had Aly Nurul Qarnain Jember asal Bali, membawa nama almamaternya ke kancah nasional melalui Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) XXXI di Semarang. Jumat (11/09/2026).

Dalam ajang tersebut, Yudhi mengikuti cabang Karya Tulis Ilmiah Al-Qur’an. Keikutsertaannya menjadi ruang untuk mengembangkan gagasan yang berangkat dari kajian Al-Qur’an dan khazanah keilmuan pesantren, kemudian dikaitkan dengan persoalan yang berkembang di tengah masyarakat.

Yudhi mengangkat tema yang berkaitan dengan kelestarian lingkungan dan kerukunan umat beragama. Menurutnya, kedua persoalan tersebut memiliki keterkaitan erat dengan kehidupan masyarakat sehingga membutuhkan perhatian, kajian, dan gagasan yang dapat memberikan kontribusi.

“Dalam Karya Tulis Ilmiah Al-Qur’an ini saya mencoba mengangkat persoalan yang dekat dengan kehidupan masyarakat, khususnya berkaitan dengan kelestarian lingkungan dan kerukunan umat beragama. Saya ingin melihat bagaimana nilai-nilai Al-Qur’an dapat dihadirkan dalam menjawab persoalan tersebut,” ujar Yudhi.

Kecintaannya terhadap kajian Al-Qur’an dan tradisi keilmuan pesantren menjadi bekal dalam menyusun gagasan. Selama mengikuti proses tersebut, ia berusaha mempertemukan nilai-nilai Al-Qur’an dengan realitas kehidupan yang terus berkembang.

“Bagi saya, belajar Al-Qur’an bukan hanya memahami teks, tetapi juga bagaimana nilai-nilai yang terkandung di dalamnya dapat dikontekstualisasikan dengan kehidupan. Karena itu, khazanah keilmuan yang saya dapatkan di pesantren menjadi salah satu bekal dalam menyusun karya ini,” ungkapnya.

Mengikuti MTQ tingkat nasional, menurut Yudhi, bukan sekadar persoalan perlombaan. Ada nama daerah dan almamater yang turut dibawa dalam setiap prosesnya.

“Ketika berada di panggung nasional, tentu yang saya bawa bukan hanya diri saya sendiri. Ada nama Ma’had Aly Nurul Qarnain dan daerah asal saya, Bali. Karena itu, saya merasa memiliki tanggung jawab untuk memberikan yang terbaik,” tuturnya.

Perjalanan Yudhi dimulai dari Bali, kemudian berlanjut dengan menimba ilmu di Ma’had Aly Nurul Qarnain Jember hingga akhirnya mendapat kesempatan tampil di tingkat nasional di Semarang.

“Dari Bali saya memulai perjalanan, kemudian mendapatkan kesempatan belajar di Ma’had Aly Nurul Qarnain. Dari sana saya banyak mendapatkan bekal keilmuan. MTQ ini menjadi salah satu ruang untuk mengembangkan apa yang telah saya pelajari,” kata Yudhi.

Baginya, perjalanan tersebut menunjukkan bahwa santri memiliki ruang yang luas untuk berkembang dan berkarya. Ilmu yang diperoleh di pesantren dapat terus dikembangkan sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan perkembangan zaman.

“Santri harus terus belajar, mengembangkan gagasan, dan berani mengambil ruang untuk berkarya. Pesantren memberikan dasar keilmuan dan nilai, sementara perjalanan berikutnya adalah bagaimana kita mengembangkan bekal tersebut agar bisa memberikan manfaat yang lebih luas,” pungkasnya.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *